Welcome to my blog, visit other blog at wordpress :D


More Goodies @ NackVision
Showing posts with label Story. Show all posts
Showing posts with label Story. Show all posts

Watak dan Persahabatan

15 December 2011

Sebuah Artikel
Pernah ada anak lelaki dengan watak buruk. Ayahnya memberi dia sekantung penuh paku, dan menyuruh memaku satu batang paku di pagar pekarangan setiap kali dia kehilangan kesabarannya atau berselisih paham dengan orang lain.

Hari pertama dia memaku 37 batang di pagar. Pada minggu-minggu berikutnya dia belajar untuk menahan diri, dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari. Dia mendapatkan bahwa lebih gampang menahan diri daripada memaku di pagar.

Akhirnya tiba hari ketika dia tidak perlu lagi memaku sebatang paku pun dan dengan gembira disampaikannya hal itu kepada ayahnya. Ayahnya kemudian menyuruhnya mencabut sebatang paku dari pagar setiap hari bila dia berhasil menahan diri/bersabar. Hari-hari berlalu dan akhirnya tiba harinya dia bisa menyampaikan kepada ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar.

Sang ayah membawa anaknya ke pagar dan berkata:
”Anakku, kamu sudah berlaku baik, tetapi coba lihat betapa banyak lubang yang ada di pagar.”

Pagar ini tidak akan kembali seperti semula.
Kalau kamu berselisih paham atau bertengkar dengan orang lain, hal itu selalu meninggalkan luka seperti pada pagar.

Kau bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali, tetapi akan meninggalkan luka.
Tak peduli berapa kali kau meminta maaf/menyesal, lukanya tinggal.
Luka melalui ucapan sama perihnya seperti luka fisik.
Kawan-kawan adalah perhiasan yang langka.
Mereka membuatmu tertawa dan memberimu semangat.

[STORY] "Kalau Saja Aku Tahu"

31 December 2010

Suatu pagi seorang ahli bangunan dipanggil oleh sang raja.
"Aneh", pikirnya, "tidak biasanya aku dipanggil oleh raja. Ada apa, ya? Aku 'kan baru saja menyelesaikan rumah pesanan raja untuk salah satu penasehatnya. Apa aku melakukan kesalahan..."
Setelah dipikir-pikir, tukang bangunan itu merasa tidak punya salah apa-apa. "Yah, apa boleh buat. Apapun yang disampaikan raja, aku harus menguatkan hatiku."
Lalu ahli bangunan itu pun pergi menghadap raja. Sesampainya di depan tahta kerajaan, raja pun mengeluarkan titahnya:


"Wahai ahli bangunan, buatlah satu rumah lagi!"
"Berapa lama, tuanku?"
"Kerjakan saja sesukamu."
"Berapa biaya untuk membuatnya?"
"Aku memiliki 1 karung emas. Gunakan sesukamu."
"Seperti apa bentuk rumahnya?"
"Atur saja sesukamu."
"Dimana aku harus membangunnya?"
"Tentukan saja sesukamu."

"Wah, jarang-jarang raja memberi tugas semudah ini. Aku boleh membuatnya sesukaku. Karena aku baru saja menyelesaikan satu rumah, aku kerjakan rumah ini kalau ingin saja. Toh, waktu membuatnya terserah aku."

Setelah menerima titah raja yang menurutnya sangat ringan tersebut, sang ahli bangunan pun mengerjakan rumah itu sekenanya. Kalau sedang malas, dia tidak mengerjakannya. Bahkan ketika dia punya niat untuk mengerjakannya, bahan bangunan yang dia beli pun bukan kualitas terbaik. Bentuknya pun terkesan asal dan tidak mempertimbangkan unsur estetika/keindahan. Benar-benar rumah yang sekedar untuk tempat berteduh. Bukan rumah yang nyaman ditinggali dan membuat betah penghuninya.